Hukum Sikat Gigi Saat Puasa ≫ PakarGIGI.com!

Hukum Sikat Gigi Saat Puasa

Posted by PakarGIGI.com on Juni 17, 2015

Bahasan tentang hukum sikat gigi saat puasa ini dimaksudkan untuk mengedukasi bagi saudara dan saudari muslim yang sedang menjadalankan puasa. Semoga saudara dan saudari yang bertanya tentang bagaimana hukum gosok gigi saat puasa, bagaimana hukum menyikat gigi saat puasa, atau bagaimana jika menyikat gigi menggunakan odol saat puasa. Semoga tulisan ini membantu dan semoga puasa kita bulan ini diterima oleh-Nya, amin.

Hukum Sikat Gigi Saat Puasa
Gambar Anak pondok menyikat gigi
Tak bisa dibantahkan lagi bahwa berpuasa seringkali menyisakan bau mulut yang kurang sedap bila tercium oleh orang lain. Walaupun demikian, dalam hadits telah disebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa bagaikan wewangian minyak misk di sisi Allah. Berikut hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.

Berkenaan dengan lingkungan sosial dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tidak ingin membuat kesan yang kurang baik tentang bau mulut kita.Untuk meminimalisirnya, seringkali kita menyikat gigi dengan pasta gigi. Akan tetapi apabila dalam kondisi berpuasa, apakah kita tetap boleh menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi? Apakah menyikat gigi dengan odol (pasta gigi) bisa disamakan dengan kebolehan bersiwak saat berpuasa? Setelah ini kita akan mengkaji tentang hukum bersiwak saat puasa, dilanjutkan dengan hukum menggunkan siwak yang memiliki rasa, kemudian diakhiri dengan pembahasan tentang hukum sikat gigi saat puasa.

Hukum Bersiwak Saat Berpuasa

Ketika ditanya tentang hukum bersiwak, Syaikh Shalih al-Fauzan memaparkan bahwa, Tidak diragukan lagi bahwa bersiwak merupakan ajaran Nabi SAW yang dianjurkan. Bersiwak itu memiliki keutamaan yang besar. Ada berbagai riwayat shahih yang menunjukkan bahwa bersiwak itu dianjurkan. Fenomena ini dapat kita lihat pada perbuatan maupun perkataan Nabi SAW yang tertuang dalam beberapa hadist.

Dengan demikian, sudah semestinya kita mengamalkan ajaran Nabi SAW untuk berusaha bersiwak, terutama pada saat diperlukan atau pada waktu-waktu yang disunnahkan untuk bersiwak, seperti sebelum berwudhu, ketika akan shalat, ketika hendak membaca al-Quran, ketika ingin menghilangkan bau mulut, serta ketika baru bangun tidur sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Keadaan yang disebutkan tadi merupakan saat yang ditekankan untuk bersiwak. Pada dasarnya bersiwak itu disunnahkan dilakukan di setiap waktu. Bahkan orang yang sedang berpuasa pun dianjurkan untuk bersiwak sebagaimana orang yang tidak berpuasa. Pendapat yang benar sesuai sunnah adalah : bersiwak dibolehkan sepanjang waktu, dianjurkan untuk bersiwak di pagi hari maupun di sore hari.

Baca juga : Hukum Berkumur Saat Puasa

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa tidak boleh bersiwak ketika sudah melewati duzhur hingga sore hari. Pendapat yang menyatakan tidak bolehnya bersiwak di sore hari sebenarnya bukan berasal dari sabda Nabi SAW. Akan tetapi, pendapat yang tepat terdapat pada beberapa perkataan sahabat Nabi SAW yang mengatakan,

رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- مَا لاَ أُحْصِى يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ

Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak beberapa kali hingga tidak dapat kuhitung banyaknya, meskipun saat itu beliau sedang berpuasa.”

Kesimpulan untuk sub bahasan ini adalah : bersiwak itu disunnahkan bagi orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa. Akan tetapi tetap harus menjaga agar jangan tergesa-gesa ketika bersiwak karena bisa melukai mulut dan menyebabkan keluar darah. Jika terjadi demikian, maka darah yang keluar harus segera dibersihkan sampai bersih dan darah tidak tertelan. Maka, walaupun bersiwak disunnah, tapi kita tetap harus pelan-pelan dan berhati-hati untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Hukum Bersiwak Jika Siwaknya Memiliki Rasa

Syekh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini, “Apakah bersiwak dengan siwak yang memiliki rasa membatalkan puasa?”

Menurut Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, Bersiwak boleh dilakukan saat berpuasa, dan hukumnya disunnahkan di setiap saat. Banyak ulama yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Mereka berpendapat demikian karena bersiwak menyebabkan hilangnya bau mulut yang baunya di sisi Allah bagaikan minyak wangi misk. Akan tetapi, para ulama yang meneliti lebih jauh menguatkan pendapat bahwa bersiwak saat berpuasa tidaklah makruh, bahkan dianjurkan untuk bersiwak di pagi dan sore hari. Mungkin ini membingungkan, tapi jika Anda merasa harus bersiwak, bersiwaklah.

Tapi bagaimana jika siwaknya memiliki rasa? Adapun jika siwak tersebut memiliki rasa, maka wajib bagi orang yang sudah bersiwak untuk membuang ludahnya ke tanah atau menyekanya dengan sapu tangan. Secara umum, sesungguhnya rasa itu hanya ada di kulit siwak dan tidak selamanya akan ada pada siwak tersebut. Lalu jika siwak tersebut memiliki rasa seperti rasa buah atau rasa sayur dan bisa dikecap dengan jelas oleh ludah kita, maka kita wajib untuk mengeluarkan rasa tersebut. Tapi jika kita menelan rasa tersebut, maka puasa kita akan batal.

Baca juga : Menyikat Gigi Bayi dengan Finger Toothbrush

Berdasarkan fatwa tersebut, kita dapat memahami bahwa alasan tidak bolehnya menggunakan siwak yang memiliki rasa saat kita berpuasa adalah karena rasa dari siwak tersebut bisa terkecap oleh ludah dan akhirnya tertelan masuk ke tenggorokan. Padahal salah satu hal yang membatalkan puasa adalah dengan sengaja menelan makanan atau minuman hingga masuk ke kerongkongan.

Pada Pasal "Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan yang Tidak Membatalkan Puasa” dalam kitab Haqiqatush Shiyam", Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa ada yang berdasarkan nash dan ijma’ (kesepakatan para ulama), yaitu: makan, minum, dan berjima’ (hubungan intim dengan istri). Sebagaimana firma Allah,

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

"Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, serta makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam (yaitu fajar). Kemudian, sempurnakanlah puasa itu sampai (datangnya) malam..." (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa di saat tidak puasa diizinkan untuk berhubungan intim dengan istri. Maka bisa dipahami bahwa puasa haruslah menahan diri dari berhubungan intim dengan istri, makan dan minum.

Hukum Sikat Gigi Saat Puasa dengan Pasta Gigi

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya, "Apakah seseorang yang berpuasa boleh menggunakan pasta gigi padahal dia sedang berpuasa di siang hari?" Untuk menanggapi hal tersebut, beliau menjawab bahwa, "Melakukan seperti itu tidaklah masalah selama tetap menjaga agar tidak tertelan hingga masuk ke kerongkongan. Sebagaimana pula dibolehkan bersiwak bagi orang yang berpuasa baik di pagi hari atau sore harinya."

Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin juga pernah mendapat pertanyaan yang serupa , “Apa hukum menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadan?” Kemudian beliau menjelaskan bahwa penggunaan pasta gigi bagi orang yang sedang berpuasa tidaklah mengapa jika pasta gigi tersebut tidak sampai masuk ke dalam tubuhnya (tidak sampai ia telan, pen). Akan tetapi, yang lebih utama adalah tidak menggunakannya karena pada pasta gigi terdapat rasa yang begitu kuat yang bisa jadi masuk ke dalam perut seseorang tanpa dia sadari.

Baca juga :
1. Cara Menghilangkan Bau Mulut 
2. Tips Menyikat Gigi Selama Bulan Puasa 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Laqith bin Shobroh,

بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

"Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali bila engkau sedang berpuasa."

Berdasarkan pembhasan di atas, maka sedikit kesimpulan yang bisa diambil adalah : yang lebih utama bagi orang yang sedang berpuasa adalah tidak menggunakan pasta gigi. Waktu untuk menggunakan pasta gigi sebenarnya masih bisa di waktu lainnya. Jika orang yang berpuasa tersebut tidak menggunakan pasta gigi hingga waktu berbuka, maka berarti dia telah menjaga dirinya dari perkara yang dikhawatirkan merusak ibadah puasanya.

Bersiwak disunnahkan untuk dilakukan dalam keadaan apa pun, baik sedang berpuasa ataupun tidak. Pada asalnya, hukum menggunakan sikat gigi dengan pasta gigi saat berpuasa adalah boleh. Namun untuk lebih berhati-hati dari tertelannya pasta gigi ke dalam kerongkongan, maka sebaiknya pasta gigi tidak digunakan ketika puasa, bisa ditunda setelah waktu berbuka tiba atau sebelum masuk waktu shubuh. Sebagai gantinya, ketika sedang berpuasa, sebaiknya menyikat gigi dilakukan tanpa memberikan pasta gigi pada sikat gigi. Smoga informasi tentang hukum sikat gigi saat puasa jelas dan semoga puasa kita diterima di sisi Allah SWT, silakan dishare ke yang lainnya.


Written by PakarGIGI.com
Hukum Sikat Gigi Saat Puasa Bahasan Hukum Sikat Gigi Saat Puasa yaitu : Bahasan tentang hukum sikat gigi saat puasa ini dimaksudkan untuk mengedukasi bagi saudara dan saudari muslim yang sedang menjadalankan p...
Published at Juni 17, 2015, Updated at Juni 17, 2015
Reviewed by dr. Suwandono on
Rating: 4.6